Mengapa Luka Hati Perlu Disembuhkan ?

Di dalam kehidupan ini, setiap kita memiliki masa lalu ataupun pernah mengalami pengalaman yang negatif.  Peristiwa negatif yang kita alami, seringkali meninggalkan luka yang dalam. Kejadiannya bisa berbentuk diabaikan oleh orangtua, penolakan atau kekerasan dari orangtua maupun perceraian orangtua; bisa juga penganiayaan, pengkhianatan ataupun pelecehan oleh orang lain; ataupun pernah mengalami trauma dan tekanan hidup. Jika hal ini tidak diatasi dengan benar dapat menimbulkan akar pahit atau luka batin yang merusak kesehatan mental, fisik, juga spiritualitas kita.

Sama halnya seperti luka fisik, maka luka batin juga perlu dirawat dan disembuhkan.

Berikut ini adalah gambaran bagaimana luka batin dapat dibandingkan dengan luka fisik.

LUKA FISIK LUKA BATIN
Kelihatan Tidak kelihatan, tetapi nampak pada tingkah laku orang yang mengalami luka batin
Terasa menyakitkan, dan perlu dirawat Terasa menyakitkan, dan perlu dirawat
Bila diabaikan, kemungkinan akan bertambah parah Bila diabaikan, kemungkingan akan bertambah parah
Perlu dibersihkan untuk mengeluarkan benda asing atau kotoran Rasa sakit perlu dikeluarkan dan setiap dosa harus diakui
Jika luka di permukaan kulit telah sembuh padahal di dalam masih ada infeksi, maka dapat menyebabkan rasa sakit sekali Jika seseorang mengira bahwa luka batin mereka telah sembuh padahal sebenarnya belum, maka akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi
Hanya TUHAN yang dapat menyembuhkan, namun Tuhan juga memakai orang lain dan obat untuk menyembuhkan Hanya TUHAN yang dapat menyembuhkan, dan Ia sering memakai orang lain dan pengertian mengenai kesembuhan batin
Jika tidak dirawat akan mengundang lalat Jika tidak dirawat akan mengundang dosa
Perlu waktu untuk sembuh Perlu waktu untuk sembuh
Luka yang sudah sembuh dapat menimbulkan bekas luka Luka yang sudah sembuh dapat menimbulkan bekas luka

Walaupun luka batin tidak kelihatan, tetapi nampak pada tingkah-laku seseorang yang mengalami luka batin. Misalnya pada sebagian orang dengan hati yang terluka, mereka kelihatan sangat marah, benci kepada orang lain dan bisa bersikap keras. Beberapa orang akan mudah merasa sedih, depresi dan mungkin juga banyak menangis, sering mengalami kesepian,  ketakutan terus-menerus, sulit tidur atau khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi. Ada orang yang cenderung menjauhi segala sesuatu yang mengingatkan mereka kepada pengalaman trauma yang pernah dialami. Ada yang terus-menerus memikirkan peristiwa yang pernah dialaminya.  Ada orang yang sangat sensitif, mudah tersinggung, minder, suka iri hati, mudah tertolak, ataupun mengalami kecanduan dalam pornografi maupun obat terlarang. Sebenarnya hal-hal tersebut adalah reaksi tanpa sadar  sebagai cara seseorang untuk menekan emosi negatif di dalam luka hatinya.

Banyak orang berusaha untuk menekan, mengabaikan dan melupakannya, tetapi sesungguhnya usaha tersebut tidak menyembuhkan.  Menyimpan masalah nampaknya nyaman untuk sementara waktu, namun sadar atau tidak, menekan emosi negatif dari luka hati justru menguras energi hidup kita. Kita menjadi mudah capek, kesal hingga marah. Oleh karena itu, luka batin perlu dipulihkan.

Bagaimana caranya agar kita pulih atau sembuh dari luka batin?

  1. Kenali setiap rasa sakit di hati kita dan rasa sakit itu harus dibawa kepada Tuhan untuk mengalami kesembuhan, karena sesungguhnya Kristus sudah menanggung bukan saja dosa kita tetapi juga rasa sakit kita dan kesengsaraan kita. Bicaralah kepada Tuhan tentang rasa sakit yang kita rasakan, curahkan isi hati kita.
  1. Keterbukaan diri dan pengakuan adalah pintu pemulihan. Dengan mengenali dan menceritakan pengalaman yang menyakitkan akan membantu kita membersihkan sisa emosi negatif, seperti mengeluarkan “nanah emosi” yang selama ini disembunyikan. Setelah dikeluarkan, maka kita akan merasa lega. Tentu kita harus selektif memilih pada siapa kita bercerita. Jangan sembarangan! Temukan seseorang yang dipercayai untuk berbagi, di mana kita bebas mengakui perasaan dan pikiran kita. Jika sulit melakukannya sendiri atau sulit menemukan orang untuk bercerita, di sinilah pentingnya untuk menemui seorang konselor, konselor akan membantu untuk mengenali akar masalah dan mengeluarkan emosi negatif.
  1. Cobalah untuk menulis. Dengan menulis  kita seolah sedang bercerita pada diri sendiri, mengeluarkan emosi negatif seperti kemarahan dan kekecewaan. Menulis adalah saluran energi melepas emosi negatif itu. Secara perlahan tapi pasti, emosi itu keluar … dan keluar.
  1. Ketika kita sudah mengeluarkan emosi negatif dan rasa sakit, maka kita akan dimampukan untuk melepaskan pengampunan untuk orang yang pernah melukai hati kita. Pengampunan membutuhkan proses waktu, sebagian luka akan kering dengan cepat tapi sebagian lain butuh proses yang panjang.
  1. Memelihara persekutuan pribadi dengan Tuhan agar hati kita terus-menerus dipenuhi kasih, sukacita dan damai sejahtera (Roma 15:13).

Nah, semua masa lalu kita, tidak peduli pengalaman itu baik atau buruk, merupakan  pengalaman yang punya makna. Tidak ada luka yang sia-sia! Terluka membuat kita sadar bahwa kita ini manusia berdosa yang butuh anugerah Tuhan. Lagi pula terluka itu investasi. Kelak dengan bekas luka tadi kita mampu berempati dengan luka sesama, dan menolong mengeringkan luka mereka. Tuhan Yesus memberkati!

Advertisements